Senin, 01 November 2010

PENGARUH ISLAM TERHADAP PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN

Berbicara kebudayaan Islam tentunya akan selalu bersinggungan dengan budaya Arab dan Timur-Tengah. Perlu dicatat bahwa tidak semua masyarakat Timur Tengah merupakan orang Arab. Orang Iran, misalnya, adalah orang bangsa Persia, yang memiliki bahasa serta budaya tersendiri—meskipun dalam ha-hal tertentu ada kesamaan dengan budaya Arab. Maka dari itu, menghubungkan budaya Islam dengan hanya budaya Arab tentunya kurang adil. Apalagi, persebaran Islam di Indonesia dilakukan bukan hanya oleh satu bangsa saja, melainkan oleh berbagai bangsa yang berdagang di Indonesia: orang Arab sendiri, Persia, Moor, India,
bahkan Cina.

Persebaran Islam di Indonesia tak serempak terjadi dalam waktu yang sama, melainkan berproses melalui aktifitas dagang dan sosial. Oleh karena itu, kekentalan pengaruh budaya dan ajaran Islam di tiap-tiap tempat di Indonesia tentunya berbedabeda. Ada masyarakat yang nuansa Islamnya kental, seperti Aceh atau Banten; adapula masyarakat yang nilai “kefanatikan” Islamnya tidak begitu kentara, seperti di Jawa.

Dalam bidang kebudayaan, pengaruh Islam begitu kental sekali, baik dalam bahasa, kesusastraan, arsitektur, seni kaligrafi, nama-nama hari dan orang, seni tarian dan musik. Bagi orang santri, cara berpakaian pun sangat kental nuansa Timur-Tengahnya.
1. Huruf, Bahasa, dan Nama-Nama Arab
Al-Quran, sebagai kitab suci Islam, menggunakan bahasa Arab, bahasa-ibu Nabi Muhammad. Dalam perkembangannya, bahasa Arab digunakan juga oleh para muslim yang non-Arab dalam
berbagai kegiatan agama, terutama shalat dan mengaji (membaca Al-Quran). Tak jarang seorang muslim yang pandai membaca Al-Quran dakam bahasa Arab namun ia kurang atau tidak mengerti arti harfiah teks-teks dalam kitab suci tersebut. Dan memang salah satu hadis menyatakan bahwa sangat diwajibkan bagi setiap muslim untuk membaca Quran meski orang bersangkutan tak mengetahui arti dan makna ayat-ayat yang dibacakan (kecuali ia membaca terjemaahannya).

Dari kebiasaan tersebut, pengaruh bahasa Arab lambat laut merambat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Persebarah bahasa Arab ini lebih cepat dari pada persebaran bahasa Sansekerta karena dalam Islam tak ada pengkastaan, karena itu dari raja hingga rakyat jelata mampu berbahasa Arab. Pada mulanya memang hanya kaum bangsawan saja yang pandai meulis dan membaca huruf dan bahasa Arab, namun pada selanjutnya rakyat kecil pun mampu berbahasa Arab, setidaknya membaca dan menulis Arab kendati tak begitu paham akan maknanya.

Penggunaan huruf Arab di Indonesia pertama kali terlihat pada batu nisan di Leran Gresik, yang diduga makam salah seorang bangsawan Majapahit yang telah masuk Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh huruf dan bahasa Arab terlihat pada karya-karya sastra di wilayah-wilayah yang keislamannya lumayan kuat seperti di Sumatera, Sulawesi, Makassar, dan Jawa. Penggunaan bahasa Arab pun berkembang di pesantren-pesanten Islam.

Penulisan huruf Arab berkembang pesat ketika karya-karya yang bercorak Hindu-Buddha disusupi unsur-unsur Islam. Huruf yang lebih banyak dipergunakan adalah aksara Arab gundul (pegon), yakni abjad arab yang ditulis tanpa tanda bunyi. Sedangkan bahasanya masih menggunakan bahasa setempat seperti Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa ibu lainnya. Sebelum bersentuhan dengan budaya Eropa (Portugis dan Belanda}, kitabkitab (sastra, hukum, sejarah) ditulis dengan huruf pegon ini. Di samping melalui kesusatraan, penggunaan bahasa dan huruf Arab terjadi di kalangan pedagang. Dalam kalender Masehi, nama-nama hari yang berjumlah tujuh dalam seminggu, di Indonesia menggunakan nama-nama Arab, yakni Senin (Isnain), Selasa (Sulasa), Rabu (Rauba’a), Kamis (Khamis), Jumat (Jum’at), Sabtu (Sabt). Enam dari tujuh hari tersebut semuanya berasal dari bahasa Arab, kecuali Minggu (bahasa Arabnya: Ahad) yang berasal dari Flaminggo dari bahasa Portugis. Hanya orang-orang tertentu yang menggunakan kata “ahad” untuk hari Minggu. Pengabadian istilah “minggu” dilakukan oleh umat Nasrani Portugis ketika melakukan ibadah di gereja pada hari bersangkutan. Selain huruf, sistem angka (0, 1, 2, 3, dan seterusnya) pun diadopsi dari budaya Arab; bahkan semua bangsa mempergunakannya hingga kini.

Selain nama-nama hari, nama-nama Arab diterapkan pula pada nama-nama orang, misalnya Muhammad, Abdullah, Umar, Ali, Musa, Ibrahim, Hasan, Hamzah, dan lain-lain. Begitu pula kosa kata Arab—kebanyakan diambil dari kata-kata yang ada dalam Al-Quran—banyak yang dipakai sebagai nama orang, tempat, lembaga, atau kosakata (kata benda, kerja, dan sifat) yang telah diindonesikan, contohnya: nisa (perempuan), rahmat, berkah (barokah), rezeki (rizki), kitab, ibadah, sejarah (syajaratun), majelis (majlis), hebat (haibat), silaturahmi (silaturahim), hikayat, mukadimah, dan masih banyak lagi. Banyak di antara kata-kata serapan tersebut yang telah mengalami pergeseran makna (melebar atau menyempit), seiring dengan perkembangan zaman.

2. Bangunan Fisik (Arsitektur)
Islam telah memperkenalkan tradisi baru dalam bentuk bangunan. Surutnya Majapahit yang diikuti oleh perkembangan agama Islam menentukan perubahan tersebut. Islam telah memperkenalkan tradisi bangunan, seperti mesjid dan makam. Islam melarang pembakaran jenazah yang merupakan tradisi dalam ajaran Hindu-Buddha; sebaliknya jenazah bersangkutan harus dimakamkan di dalam tanah. Maka dari itu, peninggalan berupa nisan bertuliskan Arab merupakan pembaruan seni arsitektur pada masanya.

Islam pertama kali menyebar di daerah pesisir melalui asimilasi, perdagangan dan penaklukan militer. Baru pada abad ke-17, Islam menyebar di hampir seluruh Nusantara. Persebaran bertahap ini, ternyata tidak berpengaruh terhadap kesamaan bentuk arsitektur di seluruh kawasan Islam. Sebagian arsitektur Islam banyak terpengaruh dengan tradisi Hindu-Buddha yang juga telah bersatu padu dengan seni tradisional. Persebaran Islam tidak dilakuan secara revolusioner yang berlangsung secara tibatiba dan melalui pergolakan politik dan sosial yang dahsyat.

Memang, menurut Tome Pires (De Graaf dan Pigeaud), terdapat penyerbuan secara militer terhadap ibukota Majapahit yang masih Hindu-Buddha yang dilakukan oleh sejumlah santri dari Kudus yang dipimpin oleh Sunan Kudus dan Rahmatullah Ngudung atau Undung. (Nama Kudus diambil dari kata al-Quds atau Baitul Maqdis di Yerusalem, Palestina, yang merupakan kota suci umat Islam ketiga setelah Mekah dan Madinah). Namun, secara umumnya proses islamisasi berlangsung dengan damai.

Dengan jalan damai ini, Islam dapat diterima dengan tangan terbuka. Pembangunan tempat-tempat ibadah tidak sepenuhnya mengadospi arsitektur Timur Tengah. Ada masjid yang bangunannya merupakan perpaduan budaya Islam-Hindu-Buddha, misalnya Masjid Kudus—meskipun pembangunannya diragukan, apakah dibangun oleh umat Hindu atau Islam. Ini terlihat dari menara masjid yang berwujud seperti candi dan berpatung. Masjid lain yang bercorak campuran adalah Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu dan Masjid Agung Banten. Atap pada Masjid Sunan Kalijaga berbentuk undak-undak seperti bentuk atap pura di Bali atau candi-candi di Jawa Timur.

Tempat sentral perubahan seni arsitektur dalam Islam terjadi di pelabuhan yang meruapkan pusat pembangunan wilayah baru Islam. Sementara para petani di pedesaan dalam hal seni arsitektur masih mempertahankan tradisi Hindu-Buddha. Tak diketahui seberapa jauh Islam mengambil tradisi India dalam hal seni, karena beberapa keraton yang terdapat di Indonesia usianya kurang dari 200 tahun. Pengaruhnya terlihat dari unsur kota. Masjid menggantikan posisi candi sebagai titik utama kehidupan keagamaan. Letak makam selalu ditempatkan di belakang masjid sebagai penghormatan bagi leluhur kerajaan. Adapula makam yang ditempatkan di bukit atau gunung yang tinggi seperti di Imogiri, makam para raja Mataram-Islam, yang memperlihatkan cara pandang masyarakat Indonesia (Jawa) tentang alam kosmik zaman prasejarah. Sementara, daerah yang tertutup tembok masjid merupakan peninggalan tradisi Hindu-Buddha.

Terdapat kesinambungan antara seni arsitektur Islam dengan tradisi sebelum Islam. Contoh arsitektur klasik yang berpengaruh terhadap arsitektur Islam adalah atap tumpang, dua jenis pintu gerbang keagamaan, gerbang berbelah dan gerbang berkusen, serta bermacam unsur hiasan seperti hiasan kaya yang terbuat dari gerabah untuk puncak atap rumah. Ragam hias sayap terpisah yang disimpan pada pintu gerbang zaman awal Islam yang mungkin bersumber pada relief makara atau burung garuda zaman pra-Islam. Namun sayang, peninggalan bentuk arsitektur itu banyak yang dibuat dari kayu sehingga sangat sedikit yang mampu bertahan hingga kini.

3. Kesusastraan
Karya sastra merupakan alat efektif dalam penyebaran sebuah agama. Jalur sastra inilah yang ditempuh masyarakat muslim dalam penyebaran ajaran mereka. Karya-karya sastra bercorak Islam yang ditulis di Indonesia, terutama Sumatera dan Jawa, awalnya merupakan gubahan atas karya-karya sastra klasik dan Hindu-Buddha. Cara ini ditempuh agar masyarakat pribumi tak terlalu kaget akan ajaran Islam. Selanjutnya, tema-tema yang ada mulai bernuansa Islami seperti kisah atau cerita para nabi dan rasul, sahabat Nabi, pahlawan-pahlawan Islam, hingga raja-raja Sumatera dan Jawa. Adakalanya kisah-kisah tersebut bersifat setengah imajinatif; dalam arti tak sepenuhnya benar.
a. Karya-karya Sastra Islam-Melayu di Sumatera
Sumatera merupakan daerah pertama di Indonesia yang dipengaruhi Islam secara politis. Kerajaan Islam tertua pun ada di sini, yakni Samudera Pasai di Aceh. Karya sastra yang dibuat di Sumatera ini kebanyakan menggunakan bahasa Melayu yang merupakan bahasa istana dan dagang, dengan aksara Arab. Karya sastra di Sumatera ini macam-macam bentuknya, ada yang berwujud kesusastraan agama, kesusastraan epos Islam, kesusastraan sejarah, pantun, cerita berinduk, undang-undang, cerita binatang (fabel), bahkan persuratan. Sedangkan dalam bentuknya ada yang puisi (syair) dan prosa. Berikut ini beberapa karya sastra sejarah dan agama yang ada di Sumatera:
(1) Hikayat Raja-Raja Pasai, menceritakan asal mula Kesultanan Samudera Pasai yang didirikan oleh Sultan Malik as-Saleh yang sebelumnya bernama Merah Sile (Merah Selu), putera bangsawan Pasai, Merah Gajah. Merah merupakan gelar bagi bangsawan Sumatera Utara. Merah Sile masuk Islam setelah bertemu dengan Syekh Ismail, seorang utusan Syekh Mekah. Syekh Ismail pula yang memberikan nama Malik as-Saleh padanya.
(2) Hikayat Aceh, menceritakan sebagian besar tentang masa kanak-kanak hingga kebesaran Iskandar Muda; juga dikisahkan berdirinya Kerajaan Aceh. Namun, nama penulis hikayat ini tak diketahui; yang jelas, penulisnya ini bisa satu orang atau terdiri dari beberapa orang penulis yang bekerja untuk pihak Aceh.
(3) Syair Burung Pungguk, Syair Burung Pingai, dan Syair Perahu, ketiganya hasil karya Hamzah Fansuri yang memperkenalkan bentuk syair kepada khasanah sastra Melayu. Fansuri hidup pada masa Sultan Iskandar Muda. Hamzah Fansuri memiliki seorang murid bernama Syekh Syamsuddin as-Sumatrani (Syamsuddin Pasai).
(4) Turjuman al-Mustafid (Terjemahan Pemberi Faedah), sebuah kitab tafsir Al-Quran dalam bahasa Melayu karya Abdur Rauf Singkel, merupakan buku tafsir pertama berbahasa Melayu yang ditulis di Indonesia. Abdur Rauf Singkel adalah pendiri Tarekat Syattariah di Aceh pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin Tajul Alam.
(5) Hikayat Perang Palembang, para penulisnya tak diketahui, mengisahkan perang antara pasukan Kerajaan Palembang melawan Hindia Belanda.
(6) Hikayat Melayu, di antaranya menceritakan cerita Panji Damar Wulan, perkawinan Sultan Malaka Mansur Syah dengan puteri Jawa dan Cina, serangan Peringgi (Portugis) ke Malaka tahun 1511.
(7) Bustan al-Salatin, yang ditulis Nuruddin ar-Raniri pada masa Sultan Iskandar Thani, menceritakan sejarah Kerajaan Aceh, raja-raja sebelum Iskandar Thani, masa kecil, perkawinan, pemakaman Baginda Iskandar Thani, hingga tiga orang raja setelah Baginda. Selain itu, kitab ini pun membahas proses penciptaan alam semesta, para nabi, pahlawan, bahkan ilmu pengetahuan.
(8) Syair Perang Mengkasar, ditulis oleh Encik Amin, mengisahkan kejadian peperangan antara rakyat Makassar menghadapi VOC Belanda.

Sebentulnya masih banyak lagi kitab sastra berjenis sejarah dan keagaman. Berikut ini karya sastra tentang epos Islam: Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Hanifah. Sementara itu cerita berinduk contohnya Hikayat Bayan Budiman. Keempat kitab tersebut ditulis pada masa Samudera Pasai.

Selain Hamzah Fansuri, Abdur Rauf Singkel, dan Nuruddin ar-Raniri; ada beberapa nama pengarang Melayu yang cukup terkenal, di antara dari Riau, misalnya:
(1) Datuk Syahbandar Riau, menulis Kitab Adab al-Muluk;
(2) Bilal Abu, menulis Syair Siti Zawiyah;
(3) Raja Ahmad, menulis Syair Raksi, Syair Engku Puteri, Syair Perang Johor;
(4) Raja Ali, menulis Hikayat Riau, Syair Nasihat;
(5) Daeng Wuh, menulis Syair Sultan Yahya;
(6) Raja Abdullah, menulis Syair Madi, Syair Kahar Mansyur, Syair Sarkan;
(7) Raja Ali Haji, merupakan penulis Melayu paling terkenal sepanjang masa, karya-karyanya di antaranya adalah: Gurindam Dua Belas, Syair Sultan Abdul Muluk, Bustan al- Katibin Li’l-Subyani al-Muta’alimin (Perkebunan Jurutulis bagi Kanak-Kanak yang Hendak Menuntut Belajar akan Dia), Ikatikatan Dua Belas Puji, Kitab Pengetahuan Bahasa, Syair Nasihat
kepada Pemerintah, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-rajanya, Syair Hukum Nikah, dan masih banyak lagi.
(8) Tengku Said, menulis Hikayat Siak atau Sejarah Raja-Raja Melayu;
(9) Raja Hasan, menulis Syair Burung, dan masih banyak penulis-penulis lainnya.

Selain terdapat di Sumatera, kesusastraan Melayu berkembang pula di Banjar, Kalimantan Timur, yang mulai berkembang pada abad ke-18. Karya-karyanya berupa kitab keagamaan, undang-undang, dan sastra sejarah seperti Hikayat Banjar yang menceritakan proses islamisasi rakyat Banjar yang melibatkan Samudera Pasai dan Majapahit. Selain itu, ada pula karya-karya sastra yang ditulis di Semenanjung Melayu (Malaka). Sejumlah kerajaan seperti Johor, Melaka, Brunei, dan Pattani di Muangthai memiliki karya-karya sastra tersendiri yang juga memakai bahasa Melayu.

Pada perkembangan selanjutnya, sastra berbahasa Melayu merupakan cikal-bakal kesusastraan Indonesia modern, sebagaimana bahasa Melayu merupakan akar dari bahasa Indonesia.

b. Karya-karya Sastra Islam di Jawa
Karya-karya bercorak Islam di Jawa Barat, Tengah, dan Timur kebanyakan merupakan sastra sejarah dan suluk. Di antaranya ditulis dengan huruf Arab dan berbahasa Jawa dan Sunda. Tidak seperti sastra-sastra Hindu-Buddha yang jumlahnya terbatas dan sebagian hilang, karya-karya bercorak Islam jumlahnya lebih banyak dan cukup terpelihara. Tema-temanya pun cenderung bersifat kesejarahan (meski sebagian isinya dapat diragukan). Berikut ini beberapa karya sastra yang ditulis pada masa Islam di Jawa, yaitu:
(1) Sajarah Banten, umumnya menceritakan riwayat raja-raja Banten, raja-raja Demak yang berkaiatan dengan para penguasa Jepara, kisah para sunan dan wali Islam. Sajarah Banten, di antaranya, menulis Ki Dilah dari Palembang yang pernah membangkang terhadap Majapahit dua kali; lalu Pati Unus sebagai penguasa Demak diperintah untuk menundukkan Ki Dilah dan berhasil. Menurut Sajarah Banten, Sunan Giri dan Bonang pernah belajar Islam di Samudera Pasai.
(2) Hikayat Hasanuddin, isinya lebih pendek dari Sajarah Banten, memuat riwayat raja-raja Banten, Demak, Sunan Gunung Jati, serta nama-nama imam di Mesjid Demak.
(3) Serat Kandha, ditulis pada abad ke-18 yang bersumber dari karya-karya penulis pesisir utara Jawa abad ke-16 dan 17, memuat kehidupan Sultan Trenggana Demak.
(4) Babad Mataram, merupakan ringkasan Serat Kandha, ditulis pada abad ke-18 juga, keduanya menceritakan riwayat keluarga Mataram.
(5) Babad Sangkala, memuat daftar-daftar tarikh (tahun) yang lumayan kumplit tentang peristiwa-peristiwa sejarah pada masanya.
(6) Sajarah Dalem, berisi silsilah keluarga raja Mataram-Islam yang disusun di Surakarta (Solo) pada abad ke-19, di dalamnya terdapat pula daftar generasi yang lebih tua dari raja-raja Mataram.
(7) Babad Pasir, berasal dari pedalaman Banyumas, memuat seputar islamisasi di Jawa Tengah dan Timur yang kebenarannya diragukan karena bersifat legenda.
(8) Babad Tanah Djawi, memuat asal-usul raja-raja di Jawa dari masa Hindu-Buddha hingga Islam. Diceritakan bahwa rajaraja Jawa merupakan keturunan langsung dari Nabi Adam, dewa-dewa Hindu, Arjuna dari Pandawa, Jayabaya raja Kediri, raja-raja Mataram-Islam, hingga sepak terjang para Wali (terutama Sunan Kalijaga) dalam menyiarkan Islam dan membangun Masjid Agung Demak. Dari babad ini terlihat bahwa terjadi pencampuradukan antara kitab suci, alam mitologi dewa Hindu, dunia pewayangan, dengan sejarah itu sendiri.
(9) Serat Rama, Serat Bharatayudha, Serat Mintaraga, serta Arjuna Sastrabahu, karya sastrawan Yasadipura I, yang hidup dari tahun 1729 hingga 1803 yang hidup pada masa Paku Buwono II Surakarta. Yasadipura I dipandang sebagai sastrawan besar Jawa. Ia menulis empat buku klasik yang disadur dari bahasa Jawa Kuno (Kawi). Selain menyadur sastra-sastra Hindu-Jawa, Yasadipura I juga menyadur sastra Melayu, yakni Hikayat Amir Hamzah yang digubah menjadi Serat Menak. Ia pun menerjemahkan Dewa Ruci dan Serat Nitisastra Kakawin. Ia menerjemahkan pula kitab Taj as-Salatin ke dalam bahasa Jawa menjadi Serat Tajusalatin serta Anbiya. Selain itu, ia pun menulis naskah bersifat kesejarahan secara cermat, yaitu Serat Cabolek dan Babad Giyanti.

INFO SEJARAH
Suluk adalah salah satu aktifitas Tarekat Naqsyabandiyah Khlawatiyah yang dilakukan dengan cara: mengurangi makan dan tidur, tidak berbicara (kecuali bila dibutuhkan). Suluk biasanya dilakukan pada bulan Ramadhan atau Dzulhijjah, lamanya 10, 20, atau 40 hari. Suluk ini diajarkan oleh seorang guru tarekat atau mursyid). Orang yang hendak melakukan suluk harus terlebih mandi, salat tobat, serta tidur dalam ruangan kecil seorang diri.

Selain karya-karya di atas, ada pula kitab berbentuk suluk, yakni kitab berisi syair-syair mistik yang ditulis dalam bentuk macapat. Sampai saai ini, suluk-suluk ini (biasa juga disebut Kitab Kuning) masih sering dibacakan oleh kaum santri. Ajaran suluk ini dipelopori oleh para wali abad ke-16 dan 17, yang memang ajaran mistiknya dapat diserap olek masyarakat Hindu- Buddha yang sama-sama menyukai mistik. Berbeda dengan suluk di daerah pesisir yang lebih menekankan nilai syariatnya, suluk di pedalaman (misalnya Mataram) lebih cenderung bersifat kejawen.

Tujuan ilmu suluk adalah pencapaian dengan kesatuan dengan Tuhan (orang Jawa bilang: manunggal ing kawula-gusti) yang dikembangkan ulama kontroversial Persia, Al Hallaj, dan pemikiran Ibnu Arabi; di Indonesia ada Siti Jenar. Suluk Wijil, contohnya, merupakan ajaran-ajaran Sunan Bonang kepada muridnya yang bertubuh kerdil bernama Wijil, mantan abdi Majapahit yang memeluk Islam. Suluk Sukarsah, isinya mengisahkan seseorang yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan. Berikut adalah beberapa contoh lain: Suluk Gatoloco, Suluk Darmogandol, Suluk Walisanga. Berikut ini sepenggal syair yang diambil dari Suluk Ratna:

Demikianlah persemayaman tauhid
Dua yang menyatu
Ibarat kertas dan putihnya
Namun setelah sadar
Bukan Aku, bukan kamu
Dan Aku bukan kamu
Ibarat kuku hitam
Yang sesungguhnya berbeda dengan kuku putih

Hamzah Fansuri menyebutkan syair-syair sebagai Islam suluk. Syair Prahu yang mengibaratkan manusia sebagai perahu yang mengarungi lautan zat Tuhan dengan manghadapi segala macam marabahaya yang hanya dapat dihadapi oleh tauhid dan makrifat serta Syair Si Burung Pingai yang mengibaratkan jiwa manusia sebagai seekor burung, sebagai Zat Tuhan. Sebenarnya masih banyak lagi karya sastra pada periode Islam ini. Kebanyakan masih seputar peristiwa-peristiwa sejarah sejak Islam menginjakkan pengaruhnya di Indonesia, terutama Jawa. Hampir semua karya sastra di atas dianalisis oleh sejarawan asing, terutama Belanda yang begitu tertarik dengan naskah-naskah kuno tersebut. Banyak di antara karya sastra tersebut tersimpan aman di perpustakaan Universitas Leiden di Belanda.

4. Seni Rupa dan Kaligrafi
Seni rupa dalam dunia Islam berbeda dengan seni rupa dalam Hindu-Buddha. Dalam ajaran Islam tak diperbolehkan menggambar, memahat, membuat relief yang objeknya berupa makhluk hidup khususnya hewan. Maka dari itu, seni rupa Islam identik dengan seni kaligrafi. Seni kaligrafi adalah seni menulis aksara indah yang merupakan kata atau kalimat. Dalam Islam, biasanya kaligrafi berwujud gambar binatang atau manusia (tapi hanya bentuk siluetnya saja). Ada pula, seni kaligrafi yang tidak berbentuk makhluk hidup, melainkan hanya rangkaian aksara yang diperindah. Teks-teks dari Al-Quran merupakan tema yang sering dituangkan dalam seni kaligrafi ini. Sedangkan, bahanbahan yang digunakan sebagai tempat untuk menulis kaligrafi ini adalah nisan makam, pada dinding masjid, mihrab masjid, kain tenunan atau kertas sebagai pajangan atau kayu sebagai pajangan. Selain huruf Arab, tradisi kaligrafi dikenal pula di Cina, Jepang, dan Korea.

5. Seni Tari dan Musik
Dalam bidang seni tari dan musik, budaya Islam hingga sekarang begitu terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dalam perjalanannya, kebudayaan Islam sebelum masuk ke wilayah Indonesia telah dahulu bercampur dengan kebudayaan lain, misalnya kebudayaan Afrika Utara, Persia, anak Benua India, dan lain-lain. Dan telah menjadi hukum alam, bahwa setiap tarian memerlukan iringan musik. Begitu pula seni tari Islami, selalu diiringi alunan musik sebagai penyemangat sekaligus sebagai sarana perenungan. Lazimnya tarian-tarian ini dipraktikkan di daerah pesisir laut yang pengaruh Islamnya kental, karena daerah pesisir merupakan tempat pertama kali Islam berkembang, baik sebagai kekuatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Selain musik penyemangat, ada pula tarian dan musik yang bersifat sufistik, yakni seni meleburkan diri dengan sang Pencipta. Biasanya ajaran sufi ini lahir dari tarekat-tarekat yang didirikan oleh ulama. Pada abad ke-11, di Turki telah lahir gerakan tarekat yang didirikan Jalaluddin Ar-Rumi yang memperkenalkan tarian berputar atau tarian darwis. Darwis dalah sebutan bagi orang yang tengah menjalani ajaran sufisme. Di Indonesia memang tari darwis ini kurang berkembang, meski bukannya tidak ada.
a. Debus
Kesenian ini sebetulnya telah ada sebelum Islam lahir. Tarian debus berkembang di daerah yang nuansa Islamnya cukup kental, seperti Banten, Minangkabau, dan Aceh. Pertunjukan debus ini diawali dahulu oleh nyanyian atau pembacaan ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an serta salam (salawat) kepada Nabi Muhammad. Pada puncak acara, para pemain debus menusuk-nusukkan benda tajam ke hampir seluruh badannya, namun tetap kebal sehingga benda tajam tidak mempan menusuk atau mengiris tubuhnya.

b. Seudati
Tari seudati berkembang di Aceh, derah di Indonesia yang pertama dipengaruhi budaya Islam. Kata “seudati” berasal dari kata syaidati, yang artrinya permainan orang-orang besar. Tarian seudati sering disebut saman (yang berarti delapan) karena permainan ini mula-mula dilakukan oleh delapan pemain. Dalam tari seudati, para penari menyanyikan lagu tertentu yang isinya berupa salawat terhadap Nabi.

c. Zapin
Selain tari seudati dan debus, ada sebuah jenis tarian yang hampir ada di seluruh Nusantara, terutama daerah yang pengaruh unsur Islam sangat kuat, di antaranya tari zapin yang dipraktikkan di Deli, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung. Di Pulau Jawa, tarian zapin ini dilakukan oleh masyarakat Jakarta, Pekalongan, Tuban, Gresik, Bondowoso, Yogyakarta, Madura, Nusa Tenggara. Di samping Sumatera dan Jawa, daerah Kalimantan, Sulawesi, Ternate, Seram, dan beberapa daerah di Maluku. Setiap daerah tersebut mengembangkan tarian zapin ini menurut tradisinya masing-masing.

Kata zapin sendiri ditafsir berasal dari kata Arab, zafin yang berarti melangkah atau langkah. Bisa pula dari kata zaf (alat petik berdawai 12 pengiring tarian) atau dari al-zafn (mengambil langkah atau mengangkat satu kaki). Tari ini dibawa oleh pedagang Arab, Persia, dan India pada abad ke-13.

6. Seni Busana
Dalam agama Islam, ada jenis pakaian tertentu yang menunjukkan identitas umat Islam. Jenis pakaian tersebut adalah sarung, baju koko, kopeah, kerudung, jilbab, dan sebagainya.

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda